Hai. . .teman-teman
kelmbali lagi dengan saya di Mbah Blog. pada kali ini saya akan mengulas lebih jauh tentang permasalahan pendidikan dan kurikulim di Indonesia, yang terasa menjadi momok bagi negeri ini . . . ok langsung saja. . silahkan dibaca. . . .
1.
Masalah
ketidaksiapan guru dalam pelaksanaan kurikulum 2013

Kurikulum
2013 merupakan hasil perbaikan dari kurikulum 2006 (KTSP). Untuk mempersiapkan
pelaksanaan kurikulum tersebut, pemerintah membuat sebuah program yaitu pembekalan
guru dengan pelatihan 52 jam dan sesi mentoring selama beberapa bulan. akan
tetapi, program ini menuai kritikan dari para pengamat, seperti yang dikemukakan
oleh ketua Forum Diskusi Guru (FSGI) Jakarta, Retno Listyarti (2013), mengutarakan
bahwa 52 jam pelatihan tidak memadai untuk menyiapkan guru dalam menerapkan kurikulum baru. Menurutnya,
sulit untuk mengajarkan dan memaksa guru menerapkan kurikulum baru dengan waktu
yang begitu singkat. selain itu, banyak pengamat pendidikan lainnya juga tidak
setuju dengan jam pelatihan guru yang dianggap cukup singkat. hal ini dapat
menyababkan ketidaksiapan guru dalam menjalankan Kurikulum 2013.Menurut mereka,
pemerintah sebaiknya menyiapkan guru dengan meningkatkan kompetensi mereka
serta manambah waktu palatihan dan mentoring terkait persiapan pelaksanaan Kurikulum
2013.
Masalah
ini memang merupakan masalah yang sangat sulit untuk di atasi, hal ini
dikarenakan berkaitan dengan kesiapan guru dalam memahami dan menjalankan
seluruh komponen dan konten yang ada di dalam Kurikulum 2013. Kurikulum 2013
merupakan kurikulum yang bagus diterapkan. namun, jika pelaksanaan kurikulum
tersebut dipaksakan, akan menimbulkan kerugian yang besar dalam bidang
pendidikan, salah satunya adalah guru tidak siap dalam menjalankan kurikulum
tersebut. faktor kurangnya sosialisasi terkait komponen dan pelaksanaan Kurikulum
2013 juga menyebabkan sebagian guru di Indonesia buta dan bingung akan
pengetahuan tentang kurikulum tersebut.
Sebaiknya,
pemerintah dalam hal ini sebagai penanggung jawab utama pelaksanaan pendidikan
di Indonesia harus mensosialisasikan terlebih dahulu kurikulum baru yang akan
digunakan diIndonesia secara merata. Hal ini dilakukan agar guru-guru dan
masyarakat di Indonesia sudah mendapatkan gambaran terkait kurikulum yang akan
diubah. Kemudian, barulah diadakan pelatihan dan mentoring yang bersifat
kontinyu dan tidak membatasi waktu pelatihannya. Hal ini dilakukan, agar guru-guru
dapat mengetahui apa yang seharusnya dilakukan terhadap kurikulum tersebut.
setelah itu, barulah pelaksanaan Kurikulum 2013 dapat direalisasikan secara
bertahap dan tidak terburu-buru. ketiga hal ini seharusnya menjadi bahan
pertimbangan pemerintah Indonesia terkait pelaksanaan Kurikulum 2013, karena bagaimanapun
sempurnaya sebuah kurikulum yang dirancang, namun tanpa ditopang oleh kemampuan,
pengetahuan, serta kesiapan guru untuk mengimplementasikannya, kurikulum yang
telah dirancang dengan bagus itu akan sia-sia.
2.
Masalah
Penilaian di Kurikulum 2013 yang Terlalu Kompleks
Masalah
ini telah diutarakan oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Anies
Baswedan pada tahun 2014. Beliau mengatakan bahwa salah satu permasalahan dalam
pelaksanaan Kurikulum 2013 adalah Metode penilaian sangat kompleks terutama
masalah kompetensi spiritual dan afektif terkesan terlalu di paksakan sehingga
menganggu substansi keilmuan dan beban administratif berlebihan bagi para guru.
Selain itu, hal tersebut dapat menyita waktu sehingga membingungkan guru dan
mengalihkan fokus dari memberi perhatian sepenuhnya pada siswa.
Permasalahan
ini bukan hanya sebatas opini yang diutarakan oleh Anies Baswedan. akan tetapi
hal ini juga dirasakan oleh beberapa sekolah di Indonesia, salah satunya adalah
SMAN 13 Rawa Badak Utara Jakarta Utara. Noviola Leni selaku Kepala Sekolah di
SMA tersebut mengatakan bahwa agak rumit dalam pelaksanaan Kurikulum 2013, karena
banyak aspek yang harus diperhatikan guru dalam memberikan penilaian, seperti
sikap, observasi dan evaluasi dari murid itu sendiri, sehingga Naviola berharap
adanya penyerdehanaan dalam hal penilaian ketiga aspek tersebut agar tidak
membebani guru.
Masalah
penilaian di Kurikulum 2013 memang terlalu lengkap, karena selain harus
menyertakan penilaian kognitif siswa, guru juga dituntut harus menyertakan
penilaian afektif dan psikomotorik tiap siswa. Penilaian ini dilakukan disetiap
pertemuan dengan model penilaian yang dituliskan dengan kata-kata. Menurut saya
hal ini memang sangat memberatkan guru dalam hal menilai siswa, karena selain
waktu yang terbatas, guru juga tidak mempunyai kesempatan untuk menilai seluruh
siswa yang menjadi beban tanggungannya akibatnya, penilaian ini kurang efektif
dan terkesan menguras tenaga guru selaku pendidik. Seharusnya perlu adanya
penyerderhanaan dalam hal penilaian siswa dari segi kognitif, afektif, dan
psikomotorik, agar efektifitas dari penilaian tersebut dapat tercapai dengan
baik.
3.
Masalah
Keterlambatan Pengadaan Buku di Kurikulum 2013
Masalah
ini telah dibahas oleh Kemendikbud pada tahun 2014. Seperti yang lansir di
laman Kemendikbud, bahwa ketergesa-gesaan penerapan Kurikulum 2013 menyebabkan
ketidaksiapan penulisan, pencetakan dan peredaran buku sehingga menyebabkan
berbagai permasalahan di ribuan sekolah akibat keterlambatan atau ketiadaan
buku pelajaran. Hal ini dapat menyebabkan tidak efektifnya kegiatan belajar
mengajar karena buku yang disediakan pemerintah terlambat dalam hal
pendistribusian, sehingga menuntun guru untuk menbuat bahan ajar sendiri dengan
menyesuaikan materi yang sudah ada di silabus, selain itu, guru berinisiatif
untuk mengunduh buku dari internet dan memperbanyaknya.
Berdasarkan
permasalahan tersebut, Ari Santoso, selaku Kepala Pusat Teknologi Informasi dan
Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom), mengatakan pihaknya telah
mengupayakan untuk melakukan digitalisasi buku bacaan sebanyak 160 judul buku.
Buku Sekolah Elektronik (BSE) tersebut dapat diunduh oleh masyarakat luas
terutama daerah yang belum bisa mengakses buku.
Masalah
ini dapat memperlambat jalannya proses kegiatan belajar disekolah dan tujuan
pembelajaran siswa berpotensi untuk tidak tercapai, karena buku yang menjadi
rujukan dapam kegiatan belajar terlambat sehingga dapat menimbulkan masalah
yang lain. Seharusnya, pemerintah harus dengan tanggap mengatasi masalah ini, dengan
secepatnya melakukan pengadaan buku cetak dan mendistribusikannya ke seluruh
wilayah Indonesia. selain itu, perlu adanya opsi cadangan yang dibuat oleh
pemerintah untuk mengantisipasi ketelambatan buku tersebut, sehingga guru dan
pihak sekolah tidak merasa terbebani dalam hal pengadaan buku cetak.
4.
Rendahnya
Minat Baca Siswa yang Semestinya ditekankan di Kurikulum 2013
Seperti
yang kita ketahui, bahwa Kurikulum 2013 menekankan pada tingkat keaktifan siswa
di dalam kelas, seperti diskusi dan mengemukakan pendapat. hal ini bertujuanu
ntuk mencetak generasi muda agar dapat mengemukakan pendapat serta mampu
bersosialisasi dengan masyarakat pada umumnya. permasalahan ini merupakan sesuatu yang telah menjadi problematika
di negeri ini berdasarkan hasil survei PBB untuk pendidikan sains dan
kebudayaan (UNESCO) menyebutkan indeks membaca masyarakat indonesia yang baru
sekitar 0,001. Artinya dari 1000 penduduk hanya ada 1 orang yang memiliki minat
baca tinggi. Angka ini sangat jauh bila dibandingkan minat baca Singapura yang
memiliki indeks 0,45. Rendahnya minat baca siswa dikarenakan selain faktor
kemalasan, pengaruh lingkungan dan perkembangan teknologi memicu rendahnya
minat baca siswa. hal ini juga menjadi permasalahan diberbagai sekolah. Menurut
Sahruddin selaku staf SMAN 75 Jakarta mengungkapkan bahwa masih rendahnya minat
baca dari siswa dan siswa hanya mempresentasikan tugas dari guru seadanya.
Namun
untuk mengatasi masalah ini, pemerintah mengadakan program Gerakan Literasi
Sekolah (GLS) yang di usulkan oleh Ditjen Dikdasmen. Program ini merupakan
suatu program yang mengharuskan siswa untuk membaca 10 atau 15 menit awal
sebelum masuk kedalam inti pembelajaran. Kegiatan ini, menyertakan guru dan
siswa (guru membacakan buku dan siswa membaca buku dalam hati) yang disesuaikan
dengan target sekolah.
Masalah
minat baca siswa memang merupakan suatu hal yang sangat sulit, karena ini
menyangkut kemauan siswa dalam membaca buku untuk meingkatkan wawasan. masalah
ini dapat diatasi dengan cara selalu memberikan motivasi kepada siswa. selain
itu perlu adanya perpustakaan mini dalam kelas untuk mempermudah siswa dalam
mengakses buku pelajaran maupun referensi yang lainnya. pengadaan buku bacaan
di perpustakaan juga dapat menigkatkan minat baca siswa.
5.
Terlalu
Membebani Miswa Dengan Penambahan Jumlah Waktu Belajar Siswa di Kurikulum 2013
Masalah
ini berkaitan dengan penambahan jumlah aktu belajar siswa disekolah sebagai
upaya meningkatkan mutu belajar siswa. Namun hal ini menuai protes dari
berbagai kalangan, seperti Forum Guru Pikiran Rakyat (FGPR) Mengatakan bahwa perbandingan
jumlah jam pelajaran dengan Negara lain tidak bisa dijadikan acuan karena
negara-negara yang melaksankan jam pelajaran lebih banyak sudah siap untuk
melaksankannya. Sekolah sebagai tempat dilaksankannya kurikulum pendidikan di
Negara-negara tersebut sudah sangat siap. Sarana prasarana di sekolah berbasis
teknologi informasi serta lingkungan sekolah yang nyaman. Kondisi sekolah di
Indonesia tidak siap untuk melaksanakan penambahan jam pelajaran. Siswa berada
di sekolah sampai sore (fullday school) hanya akan manambah beban sekolah.
Sarana prasarana sekolah dan kondisi sekolah belum siap untuk melaksanaknnya.
akibatnya siswa merasa bosan untuk barada di sekolah dan perbuatan bolos
sekolah pun merajalela. untuk itu, FGPR menyarankan kepada pemerintah untuk
mengkaji ulang dalam hal penambahan jumlah jam pelajaran, selain itu
peningkatan kualitas sekolah seperti sarana dan praarana harus di tingkatkan,
agar siswa tidak merasa bosan ketikan ada penambahan jam pelajaran.
Menurut
saya, penambahan jumlah jam pelajaran disekolah tidak efektif. hal ini
dikarenakan kondisi lingkungan sekolah yang masih belum cocok untuk menerapkan
penambahan jumlah jam pelajaran disekolah. hal ini hanya akan manambah beban
guru dan siswa disekolah. sebaiknya pemerintah pengadakan uji coba terlebih
dahulu
sebelum menerapkan sistem yang seperti ini, agar
masalah-masalah yang terjadi dalam uji coba tersebut dapat menjadi pembelajaran
dalam penerapan sistem tersebut. Selain itu, perlu adanya program yang jelas
ketika menambah jam pelajaran disekolah.
ok. . itu saja tulisan dari saya. . .silahkan di share dan jangan lupa koment.